- Back to Home »
- Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Posted by : satria
Senin, 09 November 2015
1.
MASYARAKAT
PERKOTAAN, ASPEK-ASPEK POSITIF DAN NEGATIF
A.
Pengertian
masyarakat
Mengenai
arti masyarakat, baiklah disini kita kemukakan beberapa definisi mengenai
masyarakat dari para sarjana, seperti misalnya:
1)
R.
Linton : Seorang ahli antropologi mengemukakan,
bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan
bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir
tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
2)
M.J.
Herskovits : Mengatakan bahwa
masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti satu
cara hidup tertentu.
3)
J.L.
Gilin dan J.P Gilin : Mengatakan
bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan,
tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.
4)
S.R.
Steinmetz : Seorang sosiolog
bangsa Belanda mengatakan, bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang
terbesar, yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil,
yang mempunyai perhubungan yang erat ada teratur.
5)
Hasan
Shadily : mendefinisikan masyarakat adalah
golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan pengaruh bertalian
secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain.
Kalau kita mengikuti definisi Linton, maka
masyarakat itu timbul dari setiap kumpulan individu yang telah lama hidup dan
bekerja sama dalam waktu yang cukup lama. Kelompok manusia yang dimaksud diatas
yang belum terorganisasikan mengalami proses yang fundamental yaitu:
a)
Adaptasi
dan organisasi dari tingkah laku para anggota
b)
Timbul
perasaan berkelompok secara lambat laun atau I esprit de cerpa.
Proses ini biasanya tanpa disadari dan diikuti oleh
semua anggota kelompok dalam suasana trial dan error.
Mengingat definisi-definisi masyarakat tersebut
diatas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa masyarakat harus mempunyai
syarat-syarat sebagai berikut:
a)
Harus
ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang.
b)
Telah
bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu.
c)
Adanya
aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada
kepentingan dan tujuan bersama.
Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat
dibagu dalam:
1)
Masyarakat
paksaan, misalnya: negara, masyarakat tawanan dan lain-lain
2)
Masyarakat
merdeka, yang terbagi dalam:
(a)
Masyarakat
natuur, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya.
(b)
Masyarakat
kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau
kepercayaan.
Sekarang ruang lingkup penyelidikan antropologi dan
sosiologi tidak mempunyai batas-batas yang jelas. Hanya pada metode-metode
penyelidikan ada beberapa perbedaan.
B.
Masyarakat
Perkotaan
Masyarakat
perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat kota lebih
ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang
berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Ada beberapa
ciri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu:
1)
Kehidupan
keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
2)
Orang
kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada
orang-orang lain
3)
Pembagian
kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang
nyata.
4)
Kemungkinan-kemungkinan
untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada
warga desa.
5)
Jalan
pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan
bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan
daripada faktor pribadi.
6)
Jalan
kehidupan yang cepat di kota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi
warga kota.
7) Perubahan-perubahan sosial tampak dengan
nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima
pengaruh-pengaruh dari luar.
C.
Perbedaan
Desa dan Kota
Ada
beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara
desa dan kota.
Ciri-ciri
tersebut antara lain:
1)
Jumlah
dan kepadatan penduduk
2)
Lingkungan
hidup
3)
Mata
pencaharian
4)
Corak
kehidupan sosial
5)
Stratifikasi
sosial
6)
Mobilitas
sosial
7)
Pola
interaksi sosial
8)
Solidaritas
sosial
9)
Kedudukan
dalam hierarki sistem administrasi nasional.
Meskipun tidak ada
ukuran pasti, kota memiliki penduduk yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan
desa. Hal ini mempunyai kaitan erat dengan kepadatan penduduk, yaitu jumlah
penduduk yang tinggal pada suatu luas wilayah tertentu. Kepadatan penduduk ini
mempunyai pengaruh besar terhadap pola pembangunan perumahan. Di desa jumlah
penduduk sedikit, tanah untuk keperluan perumahan cenderung ke arah horisontal,
jarangn ada bangunan rumah bertingkat. Jadi karena pelebaran samping tidak memungkinkan
maka untuk memenuhi bertambahnya kebutuhan perumahan, pengembangannya mengarah
keatas.
2.
HUBUNGAN DESA DAN KOTA
Masyarakat pedesaan dan perkotaan
bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam
keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat
ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada
desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan. Desa juga
merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis pekerjaan di kota. Mereka ini biasanya
adalah pekerja-pekerja musiman. Pada musim tanam mereka sibuk bekerja disawah.
Bila pekerjaan di bidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa
panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang
tersedia. Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh
orang desa seperti bahan-bahan pakian, alat, dam obat-obatan.
3. ASPEK
POSITIF DAN NEGATIF
Untuk menunjang aktivitas warganya serta
untuk memberikan suasana aman, tenteram dan nyaman pada warganya, kota
dihadapkan pada keharusan menyediakan berbagai fasilitas kehidupan dan
keharusan untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai aktivitas
warganya. Dengan kata lain kota harus berkembang. Secara umum dapat dikenal bahwa
suatu lingkungan perkotaan, seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi:
a)
Wisma:
Unsur ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindng
terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial
dalam keluarga.
b)
Karya:
Unsur ini merupakan syarat utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini
merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
c)
Marga:
Unsur ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan
hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota.
d)
Suka:
Unsur ini merupakan bagian dari ruang perkantoran untuk memenuhi kebutuhan
penduduk akan fasilitas-fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan,
kesenian.
e)
Penyempurnaan:
Unsur ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara
tepat tercakup kedalam empat unsur diatas.
Oleh karena itu maka kebijaksanaan perencanaan dan
mengembangkan kota harus dapat dilihat dalam kerangka pendekatan yang luas
yaitu pendekatan regional. Rumusan perkembangan kota seperti itu tergambar
dalam pendekatan penanganan masalah kota sebagai berikut:
1)
Menekan
anga kelahiran
2)
Mengalihkan
pusat pembangunan pabrik ke pinggiran kota
3)
Membendung
urbanisasi
4)
Mendirikan
kota satelit dimana pembukaan usaha relatif rendah
5)
Meningkatkan
fungsi dan peranan kota-kota kecil atau desa-desa yang telah ada disekitar kota
besar
6) Transmigrasi bagi warga yang miskin dan
tidak mempunyai pekerjaan.
4.
MASYARAKAT PEDESAAN
A.
Pengertian
Desa
Desa
adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat
pemerintahan sendiri. Dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a)
Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa
b)
Ada
pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
c)
Cara
berusaha adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam.
Pekerjaan gotong-royong pada waktu sekarang lebih
populer dengan istilah kerja bakti. Sedang mengenai macamnya pekerjaan
gotong-royong itu ada dua macam, yaitu:
a)
Kerja
bersama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga
masyarakat itu sendiri
b) Kerjasama untuk pekerjaan-pekerjaan yang
inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri.
B.
Hakikat
dan Sifat Masyarakat Pedesaan
Seperti
dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat Indonesia lebih dari
80% tinggal di pedesaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris. Maka tidak
jarang orang kota melepaskan segala kelelahan dan kekusutan pikir tersebut
pergilah mereka ke luar kota, karena merupakan yang penuh ketenangan.
Tetapi
sebenarnya didalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala,
khususnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa didalam masyarakat pedesaan penuh
dengan ketegangan-ketegangan sosial. Dalam hal ini kita jumpai gejala-gejala
sosial yang sering diistilahkan dengan:
a)
Konflik
(pertengkaran)
Ramalan orang
kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang itu memang tidak
sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh
masalah dan ketegangan
b)
Kontraversi
(pertentangan)
Pertentangan ini
bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan, psikologi atau dalam
hubungan dengan guna-guna
c)
Kompetisi
(persiapan)
Sesuai dengan
kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat
sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi
sebagai sifat ini.
d)
Kegiatan
pada masyarakat pedesaan
Masyarakat
pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja
keras tanpa bantuan orang lain.
C.
Sistem
Nilai Budaya Petani Indonesia
Para
ahli disinyalir bahwa dikalangan petani pedesaan ada suatu cara berfikir dan
mentalis yang hidup dan bersifat religio-magis.
Sistem nilai
budaya petani Indonesia antara lain sebagai berikut:
a)
Para
petani di Indonesia terutama di Jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidupnya
itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak
berarti bahwa ia harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri
dengan bersembunyi.
b)
Mereka
beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadang untuk
mencapai kedudukannya.
c)
Mereka
berorientasi pada masa ini, kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang
mampu untuk itu.
d)
Mereka
beranggapan alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu
hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima.
e) Dan untuk menghadapi alam mereka cukup
dengan hidup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu pada
hakikatnya tergantung pada sesamanya.
D.
Unsur-Unsur
Desa
Daerah,
dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaanya,
termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis
setempat.
Penduduk, adalah
hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata
pencaharian penduduk desa setempat.
Tata kehidupan,
dalam ham ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa.
Ketiga unsur
desa ini tidak lepas satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan
merupakan satu kesatuan.
Faktor
lingkungan geografis memberi pengaruh juga terhadap kegotongroyongan ini misalnya
saja:
a)
Faktor
topografi setempat yang memberikan suatu ajang hidup dan suatu bentuk adaptasi
kepada penduduk
b)
Faktor
iklim yang dapat memberi pengaruh positif dan negatih terhadap penduduk.
c)
Faktor
bencana alam seperti letusan gunung, gempa bumi, banjir, dan sebagainya yang
ahrus dihadapi dan dialami bersama.
E.
Fungsi
Desa
Pertama,
dalam hubungannya dengan kota, maka desa merupakan daerah dukung yang berfungsi
sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok.
Kedua, desa
ditinjau dari sudut potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan
tenaga kerja.
Ketiga, dari
segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, dan
desa industri.
Dari uraian
diatas, maka secara singkat ciri-ciri masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya
dapat disimpulkan sebagai berikut:
(1)
Homogenitas
Sosial
Bahwa masyarakat
desa pada umumnya terdiri dari satu atau beberapa kekerabatan saja, sehingga
pola hidup tingkah laku maupun kebudayaan sama/homogen.
(2)
Hubungan
Primer
Pada masyarakat
desa hubungan kekeluargaan dilakukan secara musyawarah.
(3)
Kontrol
sosial yang ketat
Diatas
dikemukakan bahwa hubungan pada masyarakat pedesaan dangan intim dan
diutamakan, sehingga setiap anggota masyarakat saling mengetahui masalah yang
dihadapi anggota yang lain.
(4)
Gotong
royong
Nilai-nilai
gotong royong pada masyarakat pedesaan tumbuh dengan subur dan membudaya.
(5)
Ikatan
sosial
Setiap anggota
masyarakat desa diikat dengan nilai-nilai adat dan kebudayaan secara ketat.
(6)
Magis
religius
Kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat desa sangat mendalam
(7)
Pola
kehidupan
Masyarakat desa
bermata pencaharian dibidang agraris, baik pertanian,perkebunan, perikanan, dan
peternakan.
5.
URBANISASI DAN URBANISME
Sehubungan dengan perbedaan antara
masyarakat pedesaan dengan perkotaan, kiranya perlu pula disinggung perihal
urbanisasi. Urbanisasi adalah suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke
kota.
Proses urbanisasi dapat terjadi dengan lambat maupun
cepat, hal mana tergatung daripada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Proses
tersebut terjadi dengan menyangkut dua aspek, yaitu:
-
Perubahan
masyarakat desa menjadi masyarakat kota
-
Bertambahnya
penduduk kota yang disebabkan oleh urbanisasi.
Sehubungan dengan proses tersebut
diatas, maka ada beberapa sebab yang mengakibatkan suatu daerah tempat tinggal
mempunyai penduduk yang baik. Artinya adalah, sebab suatu daerah mempunyai daya
tarik sedemikian rupa, sehingga orang-orang pendatang semakin banyak. Secara
umum dapat dikatakan bahwa sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:
1)
Daerah
yang termasuk menjadi pusat pemerintahan atau menjadi ibu kota.
2)
Tempat
tersebut letaknya sangat strategis sekali untuk usaha-usaha.
3)
Timbulnya
industri di daerah itu yang memproduksikan barang-barang maupun jasa-jasa.
Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa
menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam
prinsip:
a.
Prinsip
hubungan kekerabatan
b.
Prinsip
hubungan tinggal dekat/teritorial.
6.
PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DENGAN
MASYARAKAT PERKOTAAN.
Masyarakat pedesaan maupun masyarakat
perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem jaringan hubungan
yang kekal dan penting, serta dapat pula dibedakan masyarakat yang bersangkutan
dengan masyarakat yang lain. Oleh karena itu, mempelajari suatu masyarakat
berarti dapat berbicara soal struktur sosial. Untuk menjelaskan perbedaan atau
ciri-ciri dari kedua masyarakat tersebut, dapat ditelusuri dalam hal lingkungan
umumnya terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk,
diferensiasi sosial, pelapisan sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial,
interaksi sosial, pengendalian sosial, ukuran kehidupan, solidaritas sosial,
dan nilai atau sistem sosial.
1.
Lingkungan
umum dan orientasi terhadap alam
Masyarakat
pedesaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografinya di
daerah desa. Mereka sulit mengontrol kenyataan alam yang dihadapinya, padahal
bagi petani realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya.
2.
Pekerjaan
atau mata pencaharian
Pada
umumnya atau kebanyakan mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani. Tetap
mata pencaharian berdagang pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang nonpertanian.
3.
Ukuran
komunitas
Komunitas
pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaaan. Dalam mata pencaharian
di bidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila
dibandingkan dengan industri dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk
yang rendah perkilometer perseginya.
4.
Kepadatan
penduduk
Penduduk
desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk
kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan
klasifikasi dari kota itu sendiri.
5.
Homogenitas
dan heterogenitas
Homogenitas atau persamaan dalam
ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan
perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan
masyarakat perkotaan. Kampung-kampung bagian dari suatu masyarakat desa
mengenai minat dan pekerjaannya hampir sama.
6.
Diferensiasi sosial
Keadaan
heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi didalam
diferensiasi sosial. Fasilitas kota menyebabkan terorganiasinya berbagai
keperluan, adanya pembagian pekerjaan dan adanya saling membutuhkan serta
saling tergantung.
7.
Pelapisan
sosial
Kelas
sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti “piramida
sosial”, yaitu kelas-kelas tinggi yang berada pada posisi atas piramida, kelas
menengah ada diantara kedua tingkat eksterm dari masyarakat.
Ada beberapa
perbedeaan “pelapisan sosial tak resmi” ini antara masyarakat desa dan
masyarakat kota:
a.
Pada
masyarakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial politik lebih
banyak sistem pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
b.
Pada
masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak
terlalu besar sedangkan pada masyarakat kota jarak antara kelas eksterm yang
kaya dan miskin cukup besar.
c.
Pada
umumnya masyarakat pedesaan cenderung berada pada kelas menengah menurut ukuran
desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota.
d.
Ketentuan
kasta dan contoh-contoh perilaku yang dibutuhkan sistem kasta tidak banyak
terdapat, tetapi di Indonesia, khususnya di Bali, ada ketentuan kelas ini.
8.
Mobilitas
sosial
Mobilitas sosial berkaitan dengan
perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya.
Demikian pula di kota. Maka mobilitas sering terjadi di kota dibandingkan
dengan di daerah pedesaan. Mobilitas teritorial di kota lebih sering ditemukan
daripada di daerah pedesaan dan segi-segi penting dari mobilitas tersebut
adalah:
a.
Banyak
penduduk yang pindah kamar atau rumah ke kamar atau rumah lain, karena sistem
kontrak yang terdapat di kota dan di desa tidak demikian
b.
Waktu
yang tersedia bagi penduduk kota untuk berpergian persatuan penduduk lebih
banyak dibandingkan dengan penduduk di desa.
c.
Berpergian
setiap hari di dalam atau diluar dan pusat penduduk, di daerah kota lebih besar
dibandingkan dengan penduduk di desa.
d.
Waktu
luang di kota lebih sedikit dibandingkan dengan di daerah pedesaan, sebab
mobilitas penduduk kota lebih tinggi.
9.
Interaksi
sosial
Tipe
interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek
kualitasnnya maupun kuantitasnya. Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial
di daerah pedesaan dan perkotaan, diantaranya:
a.
Masyarakat
pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka
kontak pribadi lebih sedikit.
b.
Dalam
kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Penduduk
kota leboh sering kontak, tetapi cenderung formal sepintas lalu dan tidak
bersifat pribadi, tetapi melalui tugas atau kepentingan lain.
10.
Pengawasan
sosial
Tekanan
sosial oleh masyarakat di pedesaaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat
pribadi dan ramah-tamah dan keadaan masyarakat yang homogen. Penyesuaian
terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal
dan nantinya dapat berarti sebagai pengawasan sosial.
11.
Pola
kepemimpinan
Menentukan
kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas
pribadi dari individu dibandingkan dengan kota. Keadaan ini disebabkan oleh
lebih luasnya kontak tatap muka dan individu lebih banyak saling mengetahui
daripada di daerah kota.
12.
Standar
kehidupan
Berbagai
alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi,
fasilitas agama, dan fasilitas lain akan membahagiakan kehidupan bila
disediakan dan cukup nyata dirasakan oleh penduduk yang jumlahnya padat.
13.
Kesetiakawanan
sosial
Kesetiakwanan
sosial atau kepaduan dan kesatuan, pada masyarakat pedesaan dan masyarakat
perkotaan banyak ditentukan oleh masing-masing faktor yang berbeda. Pada
masyarakat pedesaan kepanduan dan kesatuan merupakan akibat dari sifat-sifat
yang sama, persamaan dalam pengalaman, tujuan yang sama, dimana bagian dari
masyarakat pedesaan hubungan pribadinya bersifat informal dan tidak bersifat
kontrak sosial.
14.
Nilai
dan sistem nilai
Nilai
dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda dan dapat diamati dalam
kebiasaan, cara, dan norma yang berlaku. Pada masyarakt pedesaan misalnya
mengenai nilai-nilai keluarga, dalam masalah pola bergaul dan mencari jodoh
kepala keluarga masih berperan. Dalam hal nilai-nilai ekonomi, terlihat pada
pola usaha taninya yang masih bersifat subsistem tradisional, kurang berpotensi
pada ekonomi. Masih banyak nilai lainnya yang berbeda dengan masyarakat kota.
Dalam hal ini masyarakat kota bertentangan atau tidak sepenuhnya sama dengan
nilai di desa.
