- Back to Home »
- ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN KEMISKINAN
Posted by : satria
Senin, 16 November 2015
Judul “Ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan” memberi petunjuk adanya sesuatu
inheren, mungkin permasalahannya ialah adanya kontinuitas dan perubahan,
harmoni atau disharmoni. Tidak mustahil ketiga masalah ini akan melihat masa
lampau atau masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, dan dapat melibatkan
perdebatan semantika. Keperluan sekarang adalah pengetahuan ilmiah yang harus
ditingkatkan karena pengetahuan, perbuatan, ilmu dan etika makin saling
bertautan. Berulang kali harus diambil keputusan dalam menerapkan secara
praktis pengetahuan ilmiahnya. Semuanya itu memperlihatkan suatu perpaduan dan
pertimbangan moral ilmiah. Dalam hal ini dipertanyakan bagaimana mengkaji
kemampuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan guna memanfaatkan sumber daya
alam, dan bagaimana memanfaatkan sumber daya untuk membasmi kemiskinan. Maka
usaha mulia berikutnya adalah untuk membuatnya operasional dalam rangka social
engineering-nya.
1.
Ilmu Pengetahuan
Dikalangan
ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari
pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan tertentu
dengan sistematis, metodis, rasional, empiris, umum, dan akumulatif. Pengertian
pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam
pandangan dan teori. Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif
diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melainkan
mendukung dalam mencapai tujuan ilmu itu sendiri, sehingga benar-benar
objektif, terlepas dari prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang
bersifat ilmiah itu meliputi empat hal:
a. Tidak
ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang
objektif.
b. Selektif,
artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung
oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada.
c. Kepercayaan
yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap alat indera
dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu.
d. Merasa
pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah mencapai
kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
Ilmu
pengetahuan sekarang menghadapi kenyataan kemiskinan yang pada hakikatnya tidak
dapat melepaskan diri dari kaitannya dengan ilmu ekonomi karena kemiskinan
merupakan persoalan ekonomi yang paling elementer, dimana kekurangan dapat
menjurus kepada kematian. Tetapi dilain pihak ekonomi sekarang berada pada
puncak kegemilangan intelektual, banyak menggunakan penilaian matematis dan
usaha pembuatan model matematis yang merupakan usaha yang amat makmur. Dalam
hal ini tentu ekonomi perlu menyajikan analisi yang relevan dengan kehidupan
sehari-hari dengan bermacam-macam kadar asumsinya sebab, apabila bertentangan
dengan nilai-nilai atau etika, akan memberi kesan sebagai suatu ilmu yang
mengajarkan keserakahan.
2.
Teknologi
Dalam
konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah
dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai suatu seni yang
mengandung pengertian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara
bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan keterampilan
dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. Fenomena teknik pada
masyarakat kini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Rasionalitas,
arinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan
dengan perhitungan rasional.
b. Artifisialitas,
artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
c. Otomatisme,
Artinya dalam hal metode, organiasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis.
d. Teknis
berkembang pada suatu kebudayaan
e. Meonisme,
artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.
f. Universalisme,
artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ideologi, bahkan dapat
menguasai kebudayaan.
g. Otonomi,
artinya teknik yang berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi
yang berkembang dengan pesat, meliputi berbagai bidang kehidupan manusia.
Contohnya dengan berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit
ruang angkasa, maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk
teknologi tersebut. Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai
berikut:
·
Teknik meliputi bidang
ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri.
·
Teknik meliputi bidang
organisasi seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum, dan militer.
·
Teknik meliputi bidang
manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan, dan obat-obatan.
Teknologi
tepat guna sering tidak berdaya menghadapi teknologi barat, yang sering masuk
ditunggangi oleh segelintir orang atau kelompok yang bermodal besar. Ciri-ciri
teknologi barat tersebut adalah:
1) Serba
Intensif dalam segala hal, seperti modal, organisasi, tenaga kerja, dan
lain-lain.
2) Dalam
struktur sosial, teknologi barat bersifat melestarikan sifat kebergantungan.
3) Kosmologi
atau pandangan teknologi barat adalah menganggap dirinya sebagai pusat yang
lain feriferi, waktu berkaitan dengan kemajuan secara linier, memahami realitas
secara terpisah dan berpadangan manusia sebagai tuan atau mengambil jarak
dengan alam.
3.
Ilmu Pengetahuan
Teknologi dan Nilai
` Ilmu Pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan
nilai atau moral. Hal besar perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui
kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral,
berasal dari ekses penerapan ilmu dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap
ilmuwan dibagi menjadi dua golongan:
1) Golongan
yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersifat netral terhadap nilai-nilai
baik secara ontologis maupun secara aksiologis, soal penggunaanya terserah
kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan untuk tujuuan baim atau buruk.
2) Golongan
yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya dalam
batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaan dan penelitiannya
harus berlandaskan pada asas-asas moral atau nilai-nilai.
Rangkaian
pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dengan penelitian dasar,
penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, mau tidak
mau harus dilanjutkan dengan evaluasi ethis-politis-religius. Masyarakat
seperti nilai dan moral, sebab kurangnya kendali demikian konsekuensinya jauh
lebih buruk. Upaya untuk menjinakan teknologi diantaranya:
1) Mempertimbangkan
atau kalau perlu mengganti kriteria utama dalam menolak atau menerapkan suatu
inovasi teknologi yang didasarkan pada keuntungan ekonomis atau sumbangannya
kepada pertumbuhan ekonomi.
2) Pada
tingkat konsekuensi sosial, penerapan teknologi harus merupakan hasil
kesepakatan ilmuan sosial dari berbagai disiplin ilmu.
4.
Kemiskinan
Kemiskinan
lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup
pokok. Dikatakan dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, sandang, papan.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
1) Persepsi
manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2) Posisi
manusia dalam lingkungan sekitar
3) Kebutuhan
objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Kesemuanya
dapat tersimpul dalam barang dan jasa dan tertuangkan dalam nilai uang sebagai
patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis
kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minimal. Atas dasar ukuran ini
maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Tidak
memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb.
b. Tidak
memiliki kemungkina untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri.
c. Tingkat
pendidikan mereka rendah
d. Kebanyakan
tinggal di desa pekerja bebas.
e. Banyak
yang hidup di kota berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan.
Secara
analog dapat ditentukan pola-pola relasi dalam bidang ekonomi. Kesemuanya
merupakan substruktur atau subsistem dari struktur dan sistem kemasyarakatan
yang berlaku yang endasari masalah-masalah kemiskinan. Kalau kita menganut
teori fungsionalis dari statifikasi maka kemiskinanpun memiliki sejulah fungsi
yaitu:
1) Fungsi
ekonomi, penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu, menimbulkan dana sosial,
membuka lapangan kerja baru, dan memanfaatkan barang bekas.
2) Fungsi
sosial, menimbulkan altruisme dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup
bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi keas dan merangsang munculnya badan
amal.
3) Fungsi
kultural, sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi
sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia
4) Fungsi
politik, berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal untuk
musuh bersaing bagi kelompok lain.
Walaupun
kemiskinan mempunyai fungsi, bukan berarti menyetujui lembaga tersebut. Tetapi,
karena kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi lain sebagai pengganti.ISD
