Archive for Januari 2015
Cecillia Young Ingin Remaja Indonesia Mahir Main Biola
Bagi violis muda Cecillia Young bermain alat musik biola (violin) bisa dilakukan oleh siapa saja. Dirinya juga mengelak jika memainkan biola hanya dilakukan kalangan tertentu. Apalagi, sekilas, permainan biola memang dinilai sulit, eksklusif dan terkesan mahal, tapi kondisinya tidak seperti itu.
"Kalau diniati, tekun belajar tentu tidak sulit, kalau harga biola sangat bervariasi," kata Cecil kepada wartawan, Minggu (11/1/2015).
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Taruma Negara ini mengakui, kondisi ini menyebabkan perkembangan alat musik violin/biola di tanah air tidak bersinar dibandingkan alat musik lainnya, seperti gitar, piano dan alat musik lainnya.
"Perlu diperkenalkan lebih dekat di kalangan anak muda, remaja bahkan anak-anak agar suatu saat violin populer di Indonesia. Untuk itu diperlukan banyak tempat kursus dan guru biola," katanya.
Sebagai bentuk komitmennya mempopulerkan biola, gadis kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1995 ini mengajarkan bermain biola secara privat bagi anak Internasional School & Umum dan bekerja di lembaga kursus musik dan anak. Bahkan, ia mengajarkan anak jalanan bermain biola.
"Saya ingin sekali di masa mendatang, akan banyak remaja, bahkan mungkin anak-anak yang mahir memainkan alat musik biola atau violin," kata Cecil yang juga mahir memainkan alat musik piano, gitar, suling, pianika, dan tamborin ini.
Ia pun berharap makin sering saat perhelatan acara nasional, permainan alat musik violin atau biola sering ditampilkan sehingga mampu menggugah semangat kaum muda belajar bermain biola dan instrument musik ini memasyarakat.
Bintang iklan produk susu Kolostrum NEUCO 2012 pernah terlibat memadukan musik tradisional Bali ke dalam musik klasik modern melalui kepiawaiannya menggesek biola pada album instrumental, Bali Sutrepi.
Selain sibuk kuliah yang mengajar, Cecil mempunyai banyak aktivitas lainnya. Ia digandeng Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi agen perubahan, menyampaikan misi dan visi lembaga itu untuk kalangan anak muda. Ia juga mengisi kegiatan lain membantu meringankan korban berbagai bencana.
sumber : Liputan6.com
Daripada Tawuran, Remaja Mending Belajar Traveling
Masa remaja adalah momen pencarian jati diri. Namun dalam prosesnya, tak jarang remaja malah terjerumus dalam kegiatan negatif seperti tawuran. Padahal, masih banyak kegiatan positif lainnya seperti belajar traveling.
Di masa remaja, inilah momen dimana kamu menentukan identitas dan mencari posisi kamu di dalam kelompok atau peer group. Banyak hal yang dilakukan seperti terlibat dalam satu kegiatan ekstrakulikuler, belajar berorganisasi di sekolah, ikut komunitas, atau kelompok pertemanan.
Tak jarang, masa galau yang bikin remaja stress ini bisa menjerumuskan mereka ke dalam kegiatan negatif, demi bisa dianggap gaul. Tawuran, balap motor, obat terlarang adalah beberapa contohnya. Padahal, ada kegiatan lain yang bisa membangun karakter positif anak muda, yaitu kegiatan traveling.
Psikolog remaja Ratih Zulhaqqi mengatakan kegiatan traveling bisa melatih remaja membentuk sikap mandiri, setia kawan dan toleransi. Yang paling penting, traveling bisa menyalurkan stress yang dialami remaja dengan cara yang positif.
Sebagian remaja yang ikut kegiatan pecinta alam di sekolah, adalah contoh kegiatan traveling saat muda. Naik gunung dan bertualang bersama teman, tentu itu seru untuk dilakukan. Beberapa destinasi alam menjadi tempat favorit remaja, mulai dari Kepulauan Seribu, Karimunjawa sampai Sempu di Malang.
Jika naik gunung dan bertualang di alam bukan menjadi minat, jangan khawatir. Banyak juga anak muda yang jalan-jalan bersama kawan-kawan di kota-kota yang identik dengan anak mudanya. Yogyakarta, Bandung dan Bogor adalah contohnya. Mau ramai-ramai atau sendirian, pilihan ada di tangan kamu.
Ada banyak tempat nongkrong asyik yang bisa dipilih anak muda di berbagai kota. Atau kalau mau liburan bersama kawan-kawan, bisa ke Bali, Lombok, atau mencoba datang ke kampung adat di berbagai wilayah. Anak muda yang akrab dengan social media, tidak jarang menemukan destinasi wisata mereka sendiri. Tebing Karaton di Bandung adalah contoh tempat yang populer di kalangan anak muda lewat social media.
Traveling juga menuntut sikap respek, tepat waktu dan bertanggung jawab, tidak buang sampah sembarangan atau corat-coret tempat wisata. Itu baru namanya traveler muda jempolan. Tapi, kalau traveling jangan lupa minta izin mama dan papa ya.
Dengan traveling, kamu dan kawan-kawan bisa menemukan cara baru untuk mendefinisikan keren dan gaul. Keren dan gaul itu bukan karena jago berantem, kebut-kebutan apalagi merokok. Keren dan gaul itu sekarang adalah, kamu sudah traveling ke mana saja!
sumber : http://travel.detik.com/read/2015/01/15/071924/2803758/1382/daripada-tawuran-remaja-mending-belajar-traveling
Gaya Pacaran Remaja Masa Kini Makin Permisif?
Perkembangan biologis dan ketertarikan terhadap pada lawan jenis merupakan hal normal pada tumbuh kembang remaja. Melirik lawan jenis dan ingin tampil menarik juga merupakan perkembangan yang normal. Tapi setelah ‘remaja galau’ ini saling tertarik, jatuh cinta, dan saling ‘nembak’, selanjutnya lalu apa? Survei Komisi Nasional Perlindungan Anak di 33 provinsi pada tahun 2008 menyebut, siswa SMP dan SMA yang menonton film porno sebanyak 97%. Saat bepacaran, remaja yang melakukan ciuman, masturbasi, dan oral seks sebanyak 93.7%. Siswa SMP yang sudah tidak perawan tercatat 62.7%, dan yang pernah aborsi mencapai 21.2%.
Survei yang tak kalah mengejutkan juga dilakukan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2012, yang menyebut bahwa 60% remaja melakukan hubungan seks pranikah di rumah orang tuanya sendiri. Remaja-remaja ini rupanya tahu persis kapan orang tua mereka pergi bekerja dan kapan pulangnya. Mereka melakukan di rumah mungkin karena belum punya cukup uang atau tak berani untuk melakukannya di hotel atau losmen. Selain itu, karena kedua orang tua bekerja, di rumah hanya ada Si Mbak, sementara kontrol sosial semakin longgar.
Nyatanya hubungan seks yang belum waktunya dilakukan itu bisa dengan leluasa mereka lakukan. Pada masyarakat urban, remaja yang melakukan hubungan seks pranikah jumlahnya lebih banyak. Kedua orang tua mereka bekerja, tidak ada yang mengawasi.
Diakui atau tidak, orang tua kerap mengalami kendala saat ingin berbicara soal seks dengan remaja mereka. Masih melekat pandangan bahwa ‘ngomong soal seks itu tabu’, kurangnya pengetahuan, atau tidak tahu bagaimana memulainya. Padahal membicarakan masalah seksualitas dengan remaja dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang. “Tak hanya soal menstruasi dan mimpi basah. Bisa juga soal menjaga kebersihan vagina atau penis di usia praremaja, cara berpakaian yang sopan, tidak gampang menunjukkan bagian tubuh yang sensitif mengumbar nafsu, melindungi bagian tubuh tertentu agar tidak disentuh oleh orang lain, atau cara bersikap asertif dalam berteman. Ketika anak sudah lebih besar, sudah 17 tahunan, obrolan bisa lebih ditingkatkan. Misalnya, kalau mereka punya pacar, inginnya yang seperti apa,” ujar Yudiana Ratna Sari, M.Si atau Sari dari Universitas Indonesia. Sebab kadangkala pengetahuan anak tentang seksualitasnya sudah lebih jauh dari sekadar menstruasi dan mimpi basah.
Kurangnya informasi dari keluarga tentang perkembangan seksualitas pada remaja laki-laki didasari pada pemikiran yang keliru dari generasi ke generasi. “Orang tua menganggap anak perempuan harus diawasi lebih ketat dan diberi bekal yang cukup, karena berisiko dihamili. Sementara anak laki-laki cenderung lebih ‘aman’ karena tidak bisa hamil,” papar psikolog yang juga ibu dari tiga remaja ini. Pandangan inilah yang sudah waktunya diluruskan. “Baik anak perempuan maupun anak laki-laki punya tanggung jawab yang sama. Dihamili ataupun menghamili, tanggung jawabnya sama. Orang tua harus paham ini dulu, baru menjelaskannya pada anak remajanya,” tandas Sari.
Bila remaja putri diajar menjaga dirinya, remaja laki-laki juga harus diajari mengelola kelaminnya. Sebab dalam banyak kasus, laki-laki adalah pihak yang aktif merayu perempuan agar bersedia memenuhi dorongan seksualnya dengan berbagai alasan, misalnya untuk membuktikan kesungguhan cinta mereka.
“Kunci menjadi orang tua bagi anak remaja adalah komitmen,” Sari menegaskan. Komitmen untuk memberi mereka cara hidup yang baik, yang tidak mempan digerus zaman. Juga dibutuhkan keterampilan berkomunikasi lewat bahasa mereka. Sangat mungkin di hadapan orang tua atau guru, remaja Anda terlihat baik dan polos. Tapi kalau mau tahu yang sebenarnya, coba diam-diam menyimak obrolan di antara mereka. Bahasa remaja ternyata banyak yang menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sudah cukup ‘kenal seks’. Misalnya istilah ML untuk make love (di Jawa Barat marak istilah ‘gejol’), making out untuk ciuman dan pelukan, dry sex untuk bercumbu dengan pakaian lengkap, bokep untuk tontonan porno, dan banyak lagi. Jangan langsung percaya begitu saja bahwa remaja pria Anda mau makan duren ketika dia berkata pada teman lelakinya, “Yuk, kita belah duren.” Ini artinya ajakan untuk ML, entah dengan siapa.
Membuka diri untuk memahami bahasa remaja merupakan salah satu cara untuk menyelami dunia mereka, dan kita harus siap membuka diri, dan jalankan komitmen berdasarkan keselamatan anak. “Yang pertama, kenali dulu anak kita sendiri. Caranya, jangan mengambil jarak dengan mereka, ikuti bahasa mereka, gunakan istilah mereka. Yang kedua, kenali teman-temannya. Biarkan teman-teman anak kita datang ke rumah, lalu tanyakan kepada anak kita mengapa dia mau berteman dengan mereka. Setelah mengenal teman-temannya, cari tahu kemana mereka pergi,” saran Sari. Jangan enggan bertanya kepada anak, kemana mereka akan pergi. Meski endingnya kurang enak, misalnya malah jadi bertengkar karena anak merasa diteropong.
sumber : www.pesona.co.id
Pergaulan Remaja Masa Kini
Banyak yang bilang bila pergaulan remaja
saat ini sudah sangat jauh berubah dibanding pada masa-masa sepuluh
tahun silam. Remaja sekarang lebih mampu berekspresi pada emosi dan
mengungkapkan perasaan tanpa sembunyi-sembunyi dan malu seperti dulu.
Sudah lumrah saat ini kita melihat remaja mengungkapkan kemarahan, sedih
dan kegembiraanya dengan kata-kata yang terucap secara langsung, Teman
Baiktanpa basa-basi seperti halnya remaja pada zaman dahulu. Dengan
santai mereka bisa mengungkapkan ketidak sukaanya pada ayah atau pun
ibunya.
Merangkul dan mencium mesra ibu mereka tercinta. Perilaku ini pun diterapkan pada pergaulan mereka sehari-hari. Dengan biasa mereka mengexpresikan perasaan cinta dan sayang pada pacar mereka di tempat-tempat umum. Sudah umum dilihat saat ini bila di mall-mall para remaja biasa bergandengan tangan, berpelukan bahkan berciuman. Buat para orang tua, perilaku seperti ini sangat mengejutkan dan membuat mereka merasa kuatir. Namun, seringkali para orang tua lupa, bahwa saat mereka remaja, perilaku mereka pun sering membuat kecut hati para orang tua mereka sendiri! apabila orang tua terlalu keras akibat perasaan kuatir yang mereka miliki, maka remaja akan cenderung memberontak dan bersikap jauh lebih keras dan pertikaian antara orang tua dan anak pun tidak dapat lagi dihindari.
Remaja bergaul memang adalah sebuah
kebutuhan. Sama halnya dengan dahaga yang ingin terpuaskan. Mereka ingin
mengenal banyak orang dari berbagai lingkungan. Ini sebetulnya tidak
terlepas dari proses pencarian jati diri semata. Dengan membebaskan
perasaan dan isi hati, mereka juga mengharapkan kebebasan dan ketenangan
jiwa. Bila dikekang, mereka nampak begitu sedih dan terkekang. Tapi
bila pergaulan terlalu dibebaskan, juga sangat mengkuatirkan. Yang
penting berkomunikasi dan terarah. Bilamana sang remaja masih mampu
berkomunikasi dengan keluarga dan orang tua, maka bimbingan untuk
pergaulan pun dapat tersampaikan. Informasi tentang apa yang sebaiknya
mereka lakukan dengan teman-teman dan apa efek dari apa yang mere
lalukan dan perbuat juga perlu dikomunikasikan.
Pergaulan remaja saat ini perlu mendapat
sorotan yang utama, karena pada masa sekarang pergaulan remaja sangat
mengkhawatirkan dikarenakan perkembangan arus modernisasi yang mendunia
serta menipisnya moral serta keimanan seseorang khususnya remajanya pada
saat ini. Ini sangat mengkhawatirkan Bangsa karena ditangan generasi
mudalah Bangsa ini akan dibawa, baik buruknya Bangsa ini sangat
tergantung dengan generasi muda.
Generasi muda saat ini kurang memiliki
rasa Cinta Tanah Air, ini dapat dilihat dari lebih gemarnya anak muda
anak muda untuk pergi kebioskop dari pada ke museum-museum sejarah
perjuangan bangsa, mengapa hal ini bisa terjadi? ada beberapa
kemungkinan yang dapat kita ambil dari hal tersebut yakni yang pertama
kurangnya pemupukan rasa cinta tanah air semenjak kecil ,
sinetron-sinetron yang ditayangkan ditelevisi merupakan tayangan yang
kurang produktif bagi perkembangan anak selain itu hal-hal yang terkait
dengan Bangsa ini tidak mendapat sorotan yang tajam mengenai budaya,
masalah sosial yang dapat menimbulkan Rasa cinta tanah air. Hal lain
yang dapat menjadi penyebab yakni pendidikan yang kurang sehingga dapat
menyebabkan seseorang tidak tau akan Bangsanya sendiri. Pergaulan remaja
saat ini sangat mengkhawatirkan ini dapat dilihat dari beberapa hal
yakni tingginya angka pemekai NARKOBA dikalangan remaja yakni pemakai
narkoba dikalangan remaja, dan adanya seks bebas dikalangan remaja,
angka remaja yang melakukan seks bebas hingga saat ini mencapai 50
persen ramaja melakukan hubungan seks diluar nikah . Ini sangat
mengkawatirkan bagi Bangsa Indonesia krisis moral yang terjadi
dikalangan remaja yang menyebabkan seks bebas dapat terjadi.
Hal ini perlu diatasi agar tidak
menyebabkan kemandulan dalam Bangsa karena perlu diingat lagi bahwa Masa
depan Bangsa sangat tergantung pada Generasi muda, upaya pencegahan
yang perlu dilakukan oleh kita semua yakni misalnya saja dengan
Pendidikan formal yang didalamnya ada suatu pendidikan moral selain
pendidikan keagamaan yakni adanya pendidikan tentang bahaya NARKOBA,
hubungan Seks diluar nikah serta pentingnya pendidikan budi pekerti yang
harus dijalankan. Sebab baik buruk kelakuan seseorang bermula dari baik
buruknya iman yang tertanam serta budi pekerti tiap individu. Hal ini
merupakan tanggung jawab seluruh elemen agar hal-hal seperti ini tidak
terjadi dan dapat diatasi.Hal-hal
yang dapat dilakukan diantaranya yakni peran orang tua didalam keluarga
dalam mengawasi tingkah laku anak namun tidak berhak bertindak otoriter
terhadap anak, dan dapat menjalankan fungsi sebagai orang tua dengan
baik, diantaranya memberikan kasih sayang, pendidikan budi pekerti,
serta mengajarkan cinta kasih terhadap sesame. Sehingga terjadi
keselarasan antara anak dengan dirinya serta lingkungan keluarganya.
sumber : ekoteknik.wordpress.com
Menjadi Remaja Kreatif, Gimana caranya??
Kreatif, sebuah kata sederhana namun penerapannya tidak sesederhana
kedengarannya. Banyak orang yang ingin menjadi kreatif, namun tidak tahu
harus memulai kreatifitas dari mana. Anak kreatif identik dengan anak
cerdas. Karena biasanya anak kreatif selalu mencari sesuatu yang berbeda
dari yang kebanyakan dan memberikan nilai tambah.
Dunia dengan segala
perubahan yang terjadi di dalamnya menuntut kita untuk senantiasa
berpikir kreatif. Setiap hari kita berhadapan dengan masalah. Untuk
mengatasi permasalahan inilah perlu berpikir kreatif. Nah, bagaimana
caranya agar kreatif?
Caranya :
- Membuat Perencanaan Ke Depan (Planning). Mempunyai kemauan yang kuat dan yakin kalau kita bisa menjadi kreatif. Jangan hanya terpaku pada satu perencanaa. Hal ini dimaksudkan agar kita senantiasa berpikir lebih maju dan kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Ketika menemukan permasalahan dalam beberapa perencanaan ini, pikiran kita akan termotivasi untuk membuat suatu pembaharuan yang menuntut kreatifitas. Di sinilah letak inti kreatifitas, dimana tergantung kepada kemauan kita dalam menginginkan hal baru.
- Laksanakan Rencana Secara Rileks. Namun ketika Anda tidak menemukan jalan keluarnya, jangan berhenti. Teruslah menggali ide baru sampai Anda temukan ide yang pas untuk mengatasinya. Dalam kata lain, untuk mendapatkan kreatifitas kita harus melalui terlebih dahulu masalah, bukan justru menghindarinya. Dengan menghadapi permasalahan yang ada justru akan menghasilkan nilai tambah untuk diri kita.
- Belajar Dari Kesalahan atau Kegagalan. Jangan pernah terpuruk dalam satu kegagalan. Bukankah gagal di satu titik akan melahirkan kesuksesan di titik yang lain? Lihatlah penyebab kegagalan yang terjadi dari berbagai sudut pandang dan perbaiki.
Jadi Remaja Kreatif terbentuk bukan dari suatu bakat, melainkan dari sesuatu yang perlu digali dan dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus. Setiap orang berpotensi menjadi kreatif, tergantung kemauan, usaha dan kerja kerasnya. Seorang anak yang berumur belasan tahun kadang bisa menjadi lebih kreatif dari pada orang tuanya. Anak kreatif ditandai dengan selalu mencari cara untuk melahirkan ide yang berbeda.
Dalam praktek di lapangan, anak kreatif biasanya berasal dari keluarga yang terbuka akan suatu pembaharuan, tersedia fasilitas yang dibutuhkan dan diberi kepercayaan jika mereka mampu menggali ide tersebut. Karena tidak jarang banyak orang tua yang justru meremehkan kemampuan dari si anak, sehingga kepercayaan diri si anak menjadi menurun. Orang kreatif adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri tinggi, karena dengan kepercayaan diri yang tinggi itulah mereka semakin bisa mengembangkan ide-ide yang ada. Sudah siap untuk menjadi kreatif?
sumber : media2yu.blogspot.com



